Sintang, Kalbar - Bukanlah bentuk pertentangan, melainkan sebuah refleksi kritis yang mengandung dua dimensi penting. “Euforia” merepresentasikan kemeriahan, kebanggaan, dan partisipasi publik dalam merayakan hari jadi daerah—sesuatu yang wajar, bahkan perlu, sebagai ekspresi kolektif masyarakat.
Sementara itu, “arah pembangunan” merujuk pada orientasi jangka panjang: apakah setiap momentum publik, termasuk perayaan, mampu memberi kontribusi nyata terhadap kemajuan daerah.
Pertanyaan kita adalah “euforia atau arah pembangunan? bukan untuk memilih salah satu, tetapi untuk memastikan bahwa euforia yang tercipta tidak kosong makna, melainkan selaras dan mendukung arah pembangunan Sintang ke depan. Di sinilah letak relevansi sebagai ajakan berpikir, bukan sebagai kritik yang menyudutkan.
Perayaan Hari Jadi ke-664 Kota Sintang tahun 2026 mengusung tema “Sintang Kota Bersama” yang dimaknai sebagai “Bersatu, Asri, dan Maju”. Tema ini selaras dengan visi pemerintah daerah untuk mewujudkan masyarakat yang maju, sejahtera, berkualitas, dan berkelanjutan. Namun, jika dikaitkan dengan berbagai isu strategis daerah menuju tahun 2027, mulai dari infrastruktur yang masih terbatas, pertumbuhan ekonomi yang belum inklusif, kualitas sumber daya manusia yang perlu ditingkatkan, hingga tata kelola pemerintahan yang terus diperbaiki, maka perayaan ini perlu dimaknai lebih dari sekadar seremoni.
Panitia telah menetapkan tujuh agenda utama, yakni:1.Umpan Benua, 2.Ziarah Makam Zubair I, 3.Upacara Hari Jadi ke-664 Kota Sintang, 4.Saprahan Agung dan Saprahan Anak Negeri, 5.Pameran Ekonomi Kreatif Sintang dan Panggung Hiburan, 6.Festival Musik, Lomba Gerak dan Lagu Dangdut, 7.Senam Massal.
Ketujuh agenda ini secara konseptual sudah mencerminkan pendekatan yang komprehensif—menggabungkan aspek budaya, spiritualitas, sosial, ekonomi, hingga partisipasi publik. Namun demikian, agar tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan, setiap agenda perlu dilihat melalui kacamata dampak dan keberlanjutan.
Umpan Benua dapat dimaknai sebagai ritual adat memiliki nilai strategis dalam menjaga kearifan lokal. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut tidak hanya ditampilkan, tetapi juga diinternalisasi dalam kehidupan sosial dan menjadi pijakan dalam pembangunan berkelanjutan, termasuk dalam menjaga relasi manusia dengan lingkungan.
Ziarah Makam Zubair mengandung dimensi historis dan spiritual. Kegiatan ini berpotensi membangun kesadaran sejarah masyarakat. Namun, perlu penguatan aspek edukatif agar generasi muda tidak sekadar mengikuti ritual, melainkan memahami makna sejarah yang terkandung.
Upacara Hari Jadi, sebagai simbol formal memiliki fungsi memperkuat identitas daerah dan legitimasi pemerintahan. Akan tetapi, substansi pesan yang disampaikan perlu lebih kontekstual, menyentuh realitas masyarakat dan arah kebijakan yang konkret. Saprahan Agung dan Saprahan Anak Negeri menjadi simbol kuat kebersamaan lintas budaya. Dalam konteks Sintang yang multikultural, kegiatan ini sangat relevan. Tantangannya adalah memastikan bahwa semangat kebersamaan tersebut juga tercermin dalam kebijakan publik yang inklusif. Pameran Ekonomi Kreatif dan Panggung Hiburan merupakan agenda paling strategis secara ekonomi. Namun, tanpa orientasi keberlanjutan pasca-event, kegiatan ini berpotensi hanya menjadi etalase sementara. Keberlanjutan berarti adanya dampak nyata setelah kegiatan, seperti ; terbukanya akses pasar, kemitraan usaha, hingga peningkatan kapasitas UMKM. Untuk itu diperlukan, kurasi produk berbasis kualitas dan identitas lokal, business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan investor atau distributor, serta digitalisasi UMKM melalui pemanfaatan platform daring dan sistem pembayaran digital.
Festival Musik dan Lomba Dangdut, efektif menarik partisipasi generasi muda. Namun, perlu diarahkan menjadi ruang kreativitas yang lebih produktif, termasuk mendorong inovasi dan kolaborasi budaya lokal dengan tren modern. Senam Massal, sebagai kegiatan kebersamaan memiliki nilai positif dalam membangun kesadaran hidup sehat. Akan lebih berdampak jika diintegrasikan dengan kampanye kesehatan dan lingkungan secara berkelanjutan. Jika ditarik lebih jauh, masih terdapat ruang penguatan pada aspek “Asri dan Maju”. Belum terlihat secara konkret agenda yang menyasar isu lingkungan, penataan kota, dan kesadaran publik terhadap kebersihan. Padahal, indikator kemajuan daerah justru tampak dari kualitas lingkungan dan perilaku kolektif masyarakatnya.
Dalam kerangka memperkuat makna “bersama”, penting untuk menghadirkan dialog lintas generasi sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, khususnya di panggung hiburan malam. Dialog ini dapat mengusung tema yang relevan, misalnya: “Sintang Kota Bersama di Era Digital dan Tantangan Global” Tema ini membuka ruang pembahasan yang kontekstual dan menyentuh persoalan nyata. Beberapa isu krusial yang dapat diangkat antara lain: tantangan ekonomi lokal di tengah digitalisasi global, ancaman degradasi budaya, isu lingkungan dan perubahan iklim, serta tantangan generasi muda terkait pendidikan dan lapangan kerja. Masing-masing isu ini membutuhkan respons yang tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif, melalui penguatan literasi digital, pelestarian budaya berbasis generasi muda, gerakan lingkungan partisipatif, serta penciptaan ekosistem ekonomi dan pendidikan yang adaptif.
Perayaan Hari Jadi memang tidak dapat dilepaskan dari kemeriahan. Namun, akan menjadi kurang optimal jika hanya menghasilkan euforia sesaat tanpa dampak jangka panjang. Oleh karena itu, momentum ini perlu dimanfaatkan sebagai ruang refleksi dan konsolidasi arah pembangunan.
Apa yang disampaikan dalam pemikiran ini tidak dimaksudkan untuk mementahkan, meremehkan, apalagi mencela perayaan Hari Jadi ke-664 Kota Sintang. Justru sebaliknya, tulisan ini merupakan wujud partisipasi pemikiran,sebuah ikhtiar logis dari warga yang peduli terhadap masa depan Sintang.
Dalam tradisi pembangunan yang sehat, ruang kritik, saran pendapat dan gagasan adalah bagian dari energi kolektif untuk memperbaiki, bukan untuk menjatuhkan. Karena itu, pemerintah daerah, panitia, dan seluruh perangkat daerah tidak perlu memaknai pandangan ini sebagai sesuatu yang menyinggung atau melemahkan. Sebaliknya, ini dapat dibaca sebagai cermin bersama, bahwa di tengah keberhasilan menyelenggarakan perayaan yang meriah, selalu ada ruang untuk meningkatkan makna dan dampaknya.
Apresiasi patut disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Sintang, panitia pelaksana, serta seluruh OPD dan pihak terkait yang telah bekerja keras menyelenggarakan rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-664 ini. Upaya menghadirkan perayaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat bukanlah hal sederhana, melainkan hasil dari koordinasi dan komitmen yang patut dihargai. Pada akhirnya, yang diharapkan bukanlah perayaan yang sempurna, melainkan perayaan yang terus bertumbuh dari tahun ke tahun, menjadi semakin bermakna, semakin berdampak, dan semakin mencerminkan arah pembangunan Sintang yang sesungguhnya. Sebab, ketika euforia dan arah pembangunan berjalan beriringan, di situlah Sintang benar-benar bergerak maju sebagai “Kota Bersama” SELAMAT HARI JADI KOTA SINTANG KE-664.
Penulis: Victor Emanuel
Praktisi Hukum Universitas Kapuas Sintang
Tags
Umum